Minggu lalu baca kisah Abigail di kitab Samuel en belajar banyak hal tentang "VIRTUOUS WOMAN". Dikisahkan bahwa Abigail ini perempuan yang bijak dan cantik, tapi suaminya seorang yang kasar dan jahat (lihat I Samuel 25:3). Kok bisa ya seorang wanita yang cantik en bijak menikah ama pria yang ngga sepadan gitu? Mungkin aja mereka dijodohin, inget kan kalo jaman dulu ngetren yang namanya perjodohan.
Aku sempet penasaran sih ama arti nama Abigail, en banyak sumber menulis bahwa artinya adalah "bapakku membuat dirinya bersukacita". Ngga heran lah ya, bapak mana yang ngga bersukacita kalo punya anak yang cantik en bijak gitu (dadah2 ama kak Echa yang nama depannya Abigail wkwkwk). Yang jelas arti nama Abigail tuh bagus en dia menghidupi arti namanya, sekalipun dia menikah dengan pria yang ngga banget. Tapi Abigail tetep jadi seorang istri yang baik, yang melayani suaminya, en jadi berkat buat keluarganya. Terbukti pada saat Daud mau menyerang keluarga Nabal karena kebodohannya, Abigail sesegera mungkin berusaha menyelamatkan keluarganya. Di jaman itu, seorang wanita berangkat menemui seorang pria yang uda berencana memusnahkan sebuah keluarga tuh resikonya gede, apalagi Daud adalah seorang prajurit yang punya banyak pasukan.
Walopun suaminya jahat en kasar, bahkan bisa dikatakan mencelakakan keluarga dengan kebodohannya, tapi Abigail ngga pernah berusaha membalas suaminya. Aku jadi inget ama kata-kata di Amsal 31:12; "Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya". Keren pisan nih Abigail. Padahal ngga gampang loh jadi wanita yang tetep berbuat baik ketika dia ngga mendapatkan kebaikan en perlindungan dari suami yang notabene adalah kepala keluarga.
Kita tau lah ya akhir kisahnya, karena kebijaksanaan Abigail, Daud batal memusnahkan keluarga Nabal. Abigail memberitahu Nabal soal rencana Daud di waktu yang tepat, en Tuhan yang membalas kejahatan Nabal sehingga ia mati. Trus Abigail jadi istri Daud. Kebijaksanaan Abigail menyelamatkannya dari pemusnahan, bahkan akhirnya dia diperistri oleh Daud, orang yang berkenan di hati Tuhan.
Dari kisah itu aku belajar bahwa sebagai wanita, kita perlu punya kebijaksanaan melebihi kecantikan. Kebijaksanaan bisa menyelamatkan kita dari banyak perkara, kebijaksanaan jauh lebih berharga daripada sekedar kecantikan lahiriah. Trus kalo kita diperlakukan ngga baik, jangan membalas (terutama buat para istri), walopun hal ini sama sekali ngga gampang buat dilakuin. Virtuous tuh bukan tergantung situasi, tapi karakter yang mendarah daging. Aku berdoa supaya aku pun makin dibentuk jadi virtuous woman yang berkenan di hati Tuhan. Amen.
No comments:
Post a Comment