Hari ini (9 Agustus) adalah hari pertamaku kuliah di semester 7. Deg- degan, nggak kerasa banget uda semester akhir. Berasa kemarin baru masuk kuliah, eh ternyata sekarang udah hampir lulus. Time flies so fassssstttt. Nggak kerasa uda tua, hahahaahha.
Pagi ini sebelum aku memulai hariku, aku sempatkan diri untuk baca renungan di Before 30 Discipleship bab 5 tentang HATI YANG KUAT, dimana hati yang kuat akan menguatkan orang lain. Disitu dikisahkan tentang Yusuf, yang sedang berada di penjara setelah difitnah oleh istri Potifar. Mungkin Yusuf sempat merenungkan betapa nggak adilnya hidupnya, pertama dijual ke Mesir oleh sodara- sodaranya, lalu di rumah Potifar dia udah excellent kok malah difitnah, trus dijeblosin ke penjara tanpa diperiksa dulu perkaranya. Mungkin Yusuf sempet nge- drop en ngrasa putus harapan. Namun, di dalam penjara itu, Yusuf menyadari bahwa kondisi yang tidak mengenakkan bagi dagingnya itu justru peluang baginya untuk menunjukkan ketidakterbatasan rancangan Tuhan atas dirinya. Itulah hati yang kuat!
Trus disitu dibahas bahwa kita harus kuat dalam segala keadaan, harus menguatkan diri sendiri dalam Tuhan, en menguatkan orang lain. I was so blessed with this verse: “ tetapi orang –orang yang menanti- nantikan TUHAN mendapat kekuatan yang baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31). Ayat ini emang udah berkali- kali aku baca, tapi selalu punya dampak positif ketika aku membacanya. Pagi ini aku Cuma baca sungguh- sungguh dan mengimaninya, tanpa tahu apa yang akan terjadi sepanjang sisa hari ini.
Aku berangkat ke kampus en kuliah. Nothing special. Selesai kuliah aku dateng ke sekjur (sekretaris jurusan) akuntansi, aku jelasin ke beliau bahwa aku mau pindah dari magang ke skripsi soalnya aku nggak dapet- dapet perusahaan. Beliau nyuruh aku ngomong ke kajur (ketua jurusan) akuntansi, untuk minta ijin. Sesampainya di kajur, aku diketawain, trus bapaknya rekomendasiin aku untuk nyoba nglamar ke BG Junction (sebelumnya aku uda sempet telpon kesana en ternyata bagian HRDnya lagi cuti). Huwaaaaaa…… Sempet ngrasa sedih, soalnya aku ngrasa bahwa Tuhan emang dari awal nggak naruh aku di magang tapi aku ngeyel. Trus akhirnya aku sadar en aku mau nurut untuk pindah ke skripsi, tapi ternyata kemungkinan besar nggak bisa pindah.
Sejujurnya ada banyak pilihan yang ada di otakku, pengen nangis, pengen sebel, pengen nyerah. Tapi aku dieeeeem aja. Aku dapet waktu sendirian di satu ruangan di kampus, disitu aku ngomong ke Tuhan: “Lord, aku nggak tau harus gimana. Kenapa sih rasanya semua pintu ketutup buat aku?” Tapi tiba- tiba aku ngrasa tetep kuat, nggak nge-drop, ga gelisah bla bla bla. Hati ini rasanya tenang banget. Trus Dia ngingetin aku tentang renungan yang aku baca tadi pagi, tentang hati yang kuat. Tentang sebuah respon hati yang tetap kuat, nggak peduli apapun kondisi yang sedang terjadi. Nggak gampang guys, aku punya sejuta skenario di otakku: Gimana kalo sampai detik terakhir tetep nggak dapet perusahaan untuk magang? Gimana kalo ternyata boleh pindah ke skripsi tapi waktunya nggak cukup? Gimana kalo aku nggak bisa nyelesaiin tugas akhirku dalam waktu 1 semester? Dan gimana- gimana yang lainnya.
Tapi aku menyadari sungguh- sungguh bahwa hati yang kuat adalah sebuah PILIHAN. Ya, sebuah pilihan. Walopun renungan tadi pagi ngebahas tentang hati yang kuat, bisa aja tiba- tiba aku milih untuk lebih ngliat keadaanku dibanding dengan janji-Nya. Bisa aja aku lupa dengan ayat ayng aku baca tadi pagi. Dan seterusnya. Bener- bener sebuah pengalaman yang nyata, dimana setiap Firman yang kita baca, itu harus kita renungkan baik- baik, trus kita lakuin. Bukan dibaca, semangat pada saat itu doank, setelah itu lupa. Pas dapet tantangan, langsung nge-drop en mellow marsmallow.
Aku dapet 1 lagu pas malem ini ngerenungin apa yang aku pelajari (sempet nangis tentunya): “Kaulah Tuhan, tempatku berseru, tempatku berserah. Kaulah harapan. Kaulah Bapa yang paling mengerti, sgala yang terjadi takkan melebihi kekuatanku”. Bener guys, setiap tantangan yang kita alami, uda diseleksi dulu sama Bapa. Dijamin nggak ada yang melebihi batas kekuatan kita. Cuma sering kali kitanya aja yang sok “rendah hati” alias rendah diri en ngrasa nggak mampu. Aku belajar satu hal lagi, bahwa jalan- jalan en pintu- pintu yang ketutup buat hidupku, nggak aku biarin untuk menjadi tembok penghalangku untuk meju. Justru aku mau pake setiap pintu- pintu yang ketutup itu menjadi sebuah jalan untuk aku berlutut sekali lagi di hadapan Bapa, percaya sekali lagi kepada-Nya, mendekat lagi dengan hati-Nya.
Semoga melalui note ini, kita diingetin sekali lagi, bahwa Bapa itu baik bangeeeet. Dia selalu ada buat kia, bahkan saat kita ada di masa- masa tergelap sekalipun. Pandanglah kepada bapa dengan penuh iman, bukan dengan penuh ketakutan. Karena hanya imanlah yang kita perlukan untuk menghadapi semua kesulitan yang ada. God bless.
Pagi ini sebelum aku memulai hariku, aku sempatkan diri untuk baca renungan di Before 30 Discipleship bab 5 tentang HATI YANG KUAT, dimana hati yang kuat akan menguatkan orang lain. Disitu dikisahkan tentang Yusuf, yang sedang berada di penjara setelah difitnah oleh istri Potifar. Mungkin Yusuf sempat merenungkan betapa nggak adilnya hidupnya, pertama dijual ke Mesir oleh sodara- sodaranya, lalu di rumah Potifar dia udah excellent kok malah difitnah, trus dijeblosin ke penjara tanpa diperiksa dulu perkaranya. Mungkin Yusuf sempet nge- drop en ngrasa putus harapan. Namun, di dalam penjara itu, Yusuf menyadari bahwa kondisi yang tidak mengenakkan bagi dagingnya itu justru peluang baginya untuk menunjukkan ketidakterbatasan rancangan Tuhan atas dirinya. Itulah hati yang kuat!
Trus disitu dibahas bahwa kita harus kuat dalam segala keadaan, harus menguatkan diri sendiri dalam Tuhan, en menguatkan orang lain. I was so blessed with this verse: “ tetapi orang –orang yang menanti- nantikan TUHAN mendapat kekuatan yang baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:31). Ayat ini emang udah berkali- kali aku baca, tapi selalu punya dampak positif ketika aku membacanya. Pagi ini aku Cuma baca sungguh- sungguh dan mengimaninya, tanpa tahu apa yang akan terjadi sepanjang sisa hari ini.
Aku berangkat ke kampus en kuliah. Nothing special. Selesai kuliah aku dateng ke sekjur (sekretaris jurusan) akuntansi, aku jelasin ke beliau bahwa aku mau pindah dari magang ke skripsi soalnya aku nggak dapet- dapet perusahaan. Beliau nyuruh aku ngomong ke kajur (ketua jurusan) akuntansi, untuk minta ijin. Sesampainya di kajur, aku diketawain, trus bapaknya rekomendasiin aku untuk nyoba nglamar ke BG Junction (sebelumnya aku uda sempet telpon kesana en ternyata bagian HRDnya lagi cuti). Huwaaaaaa…… Sempet ngrasa sedih, soalnya aku ngrasa bahwa Tuhan emang dari awal nggak naruh aku di magang tapi aku ngeyel. Trus akhirnya aku sadar en aku mau nurut untuk pindah ke skripsi, tapi ternyata kemungkinan besar nggak bisa pindah.
Sejujurnya ada banyak pilihan yang ada di otakku, pengen nangis, pengen sebel, pengen nyerah. Tapi aku dieeeeem aja. Aku dapet waktu sendirian di satu ruangan di kampus, disitu aku ngomong ke Tuhan: “Lord, aku nggak tau harus gimana. Kenapa sih rasanya semua pintu ketutup buat aku?” Tapi tiba- tiba aku ngrasa tetep kuat, nggak nge-drop, ga gelisah bla bla bla. Hati ini rasanya tenang banget. Trus Dia ngingetin aku tentang renungan yang aku baca tadi pagi, tentang hati yang kuat. Tentang sebuah respon hati yang tetap kuat, nggak peduli apapun kondisi yang sedang terjadi. Nggak gampang guys, aku punya sejuta skenario di otakku: Gimana kalo sampai detik terakhir tetep nggak dapet perusahaan untuk magang? Gimana kalo ternyata boleh pindah ke skripsi tapi waktunya nggak cukup? Gimana kalo aku nggak bisa nyelesaiin tugas akhirku dalam waktu 1 semester? Dan gimana- gimana yang lainnya.
Tapi aku menyadari sungguh- sungguh bahwa hati yang kuat adalah sebuah PILIHAN. Ya, sebuah pilihan. Walopun renungan tadi pagi ngebahas tentang hati yang kuat, bisa aja tiba- tiba aku milih untuk lebih ngliat keadaanku dibanding dengan janji-Nya. Bisa aja aku lupa dengan ayat ayng aku baca tadi pagi. Dan seterusnya. Bener- bener sebuah pengalaman yang nyata, dimana setiap Firman yang kita baca, itu harus kita renungkan baik- baik, trus kita lakuin. Bukan dibaca, semangat pada saat itu doank, setelah itu lupa. Pas dapet tantangan, langsung nge-drop en mellow marsmallow.
Aku dapet 1 lagu pas malem ini ngerenungin apa yang aku pelajari (sempet nangis tentunya): “Kaulah Tuhan, tempatku berseru, tempatku berserah. Kaulah harapan. Kaulah Bapa yang paling mengerti, sgala yang terjadi takkan melebihi kekuatanku”. Bener guys, setiap tantangan yang kita alami, uda diseleksi dulu sama Bapa. Dijamin nggak ada yang melebihi batas kekuatan kita. Cuma sering kali kitanya aja yang sok “rendah hati” alias rendah diri en ngrasa nggak mampu. Aku belajar satu hal lagi, bahwa jalan- jalan en pintu- pintu yang ketutup buat hidupku, nggak aku biarin untuk menjadi tembok penghalangku untuk meju. Justru aku mau pake setiap pintu- pintu yang ketutup itu menjadi sebuah jalan untuk aku berlutut sekali lagi di hadapan Bapa, percaya sekali lagi kepada-Nya, mendekat lagi dengan hati-Nya.
Semoga melalui note ini, kita diingetin sekali lagi, bahwa Bapa itu baik bangeeeet. Dia selalu ada buat kia, bahkan saat kita ada di masa- masa tergelap sekalipun. Pandanglah kepada bapa dengan penuh iman, bukan dengan penuh ketakutan. Karena hanya imanlah yang kita perlukan untuk menghadapi semua kesulitan yang ada. God bless.
Aug 9th 2011
9:13 pm
No comments:
Post a Comment