August 13, 2011

RANCANGAN-NYA SELALU LEBIH BAIK

Awal Juli 2010, Tuhan memberiku visi untuk menjadi terang dan berkat di organisasi kampus. Aku sempat menolak, karena aku nggak berminat untuk terjun lagi dalam organisasi kampus. Namun, apa yang mejadi kehendak-Nya selalu lebih baik daripada kehendakku. Agustus 2010, dimulailah petualangan baruku di dalam organisasi kampus.

Ketidaksepakatan, kesalahpahaman, kurangnya komunikasi dan kerjasama, mengakibatkan organisasiku nggak berjalan dengan baik. Kelelahan, kebencian, kekecewaan mulai menjalar di hati para anggota di organisasi. Tak ada yang mau turun tangan untuk mengatasinya, entah karena terlalu takut atau tidak tahu langkah apa yang harus diambil.

Aku maju dan mengulurkan tangan untuk membantu. Beberapa masalah teratasi, beberapa hati dipulihkan, beberapa hal yang nggak beres mulai terselesaikan. Namun, yang kuperoleh bukanlah rasa terima kasih tetapi kebencian dan iri hati dari ketua organisasi. Dia menganggapku telah melangkahi wewenangnya. Belum lagi tuntutan yang tak kunjung berakhir dari senior- senior dan dosenku. Lelah, hampa, kecewa, terpuruk. Disitulah aku, terbuang dalam lembah yang kelam. Aku mulai bergumul, benarkah Allah memanggilku di tempat ini? Mampukah aku berjalan dalam dunia yang keras tanpa kasih Bapa.

Kelelahan demi kelelahan. Tuntutan demi tuntutan. Kemunafikan demi kemunafikan. Program yang harus dijalankan ditambah junior- junior yang perlu dibimbing, membuatku frustasi. Tak dapat tidur nyenyak, tertekan, mulai kehilangan arah. Aku mencapai batas kekuatanku di bulan September 2010. “Ok God, finish me now. I’m tired with all of this”, doaku malam itu. Aku menelepon seorang teman, namun itu tak membantuku. Dia menemukan bahwa aku dihinggapi roh kepahitan dan dia melepaskanku. Aku merasa nggak berdaya, enggan mendengarkan kata- katanya. Aku membanting telepon dengan keputusasaan.

“Kalau ini adalah visi yang Kau berikan, mengapa Kau ijinkan hal- hal buruk terjadi?, teriakku marah kepada Tuhan. Damai sejahtera-Nya turun melingkupiku. Dia berkata dengan lembut, mengingatkanku bahwa yang Dia inginkan bukanlah aku bekerja sana sini untuk memnuhi kebutuhan yang ada, namun berada sedekat dengan Dia. Itu membangkitkanku malam itu. Akhirnya bisa tidur nyenyak juga setelah 2 minggu nggak menikmati tidur nyenyak.

Namun masalah tak berhenti sampai di situ. Aku semakin menyadari bahwa aku nggak bisa bekerja dengan efektif di 2 tempat, yaitu di pemasa dan organisasi. Aku harus memilih. Namun dimanakah tempat yang terbaik bagiku? “Nggak masalah kamu pelayanan dimana. Kalau kamu berada di tempat yang salah, tapi kamu mau belajar mengerti hati Tuhan di tempat itu, nggak masalah”, itulah kata- kata yang menguatkanku.

Setelah 2 bulan bergumul, awal Desember aku memutuskan untuk meninggalkan pemasa. Nggak ada ayat yang aku dapet waktu aku berdoa meminta jawaban. Hanya damai sejahtera yang menyertaiku. Banyak kekhawatiran dari pemimpin dan orang sekelilingku. Namun hatiku mantap melangkah bersama-Nya. Aku percaya, jikalau Dia memilihku, maka Ia juga yang akan memampukanku untuk melewati semuanya samapi visi-Nya digenapi. Jika aku menolak panggilan-Nya, maka nggak ada seorangpun yang dapat melakukan kehendak-Nya. Aku spesial di mata-Nya. Dia memberiku panggilan khusus, dimana nggak ada seorangpun dapat menggantikan posisiku.

Bulan Desember aku mulai berdoa lebih, mencari kehendak-Nya, langkah apa saja yang harus aku ambil. Bulan Januari sampai Juli 2011, aku mengimplementasikannya. Banyak kegagalan, banyak kemarahan, banyak keretakan terjadi. Namun ada pemulihan, ada kekuatan baru, ada orang- orang yang bertahan bersamaku sampai akhir. Apakah aku berhasil? Menurutku tidak. Namun menurut beberapa orang, sangat berhasil. Aku berhasil mempertahankan eksistensi organisasiku dan semangat orang- orang yang mau bekerjasama untuk organisasi ini.

Ketaatan selalu membuahkan kemuliaan. Nggak ada penghargaan yang kuperoleh dari manusia. Nggak ada pujian, sanjungan, sambutan. Tapi ada hati yang diperbarui di dalamku. Hatiku yang semula enggak sabar, mulai berubah agak sabar. Aku yang mudah putus asa, menjadi lebih kuat. Namun, hadiah terbesar yang kuterima dari Tuhan adalah IPS (Indeks Prestasi Semester)ku naik begitu tinggi. Di bulan Juni 2011, aku memperoleh IPS tertinggi selama aku kuliah. Bukan karena kerja kerasku, bukan karena kepandaianku. Tapi aku tahu dan sadar, itu hanya kasih karunia-Nya semata.  Itulah upah yang Dia berikan bagiku. Hatiku melonjak girang, bukan karena visi telah kujalani, namun karena aku semakin mengenal hati Bapaku. Yang Dia inginkan ketika memberiku visi itu, bukanlah hasil akhir, namun proses demi proses yang membuatku semakin serupa dengan-Nya.
Kau bukan Tuhan yang melihat rupa
Kau bukan Tuhan yang memandang harta
Hati hamba yang slalu Kau cari
Biar Kau temukan di dalamku
Slama kuhidup kumau menyembah-Mu
Sbab engkau sangat berarti bagiku
Yang terbaik yang ada padaku
Kupersembahkan kepada-Mu, Yesusku
(Hati Hamba, Sari Simorangkir)

No comments: