Aku menabrak seseorang yang tidak kukenal ketika ia lewat. “Oh, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Apakah Anda tidak apa-apa?”, itu adalah kata-kata pertama yang tercetus di bibirku. Dengan sopan ia berkata, “Tidak apa- apa, maafkan saya juga”. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun jika hal yang sama terjadi di rumah, bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi?
Pada hari itu juga, saat aku sedang menikmati makan malam, mama sedang berdiri diam- diam di sampingku, hendak meletakkan sesuatu di meja makan. Ketika aku berdiri hendak berbalik dari meja makan, aku menabraknya hingga hampir membuatnya jatuh. “Aduh, gimana sih!”, kataku dengan ketus disertai dengan pandangan yang sangat tidak menyenangkan. Mama hanya diam saja dan pergi, namun sorot matanya menggambarkan bahwa hatinya terluka. Aku tidak menyadari betapa kasarnya kata-kataku terhadap mama.
Malam itu, ketika aku tidur, aku bermimpi bertemu dengan Tuhan. Ia mendatangiku kemudian dengan lembut Tuhan berbicara kepadaku, “Anak-Ku, ketika kamu berurusan dengan orang yang tidak kamu kenal, kamu menggunakan etika dengan sangat baik. Namun kepada orang yang mengasihimu, kamu berlaku sewenang- wenang. Coba lihat di meja dapur, di sana kamu akan menemukan kue kesukaanmu buatan mamamu”. Aku tercengang mendengar perkataan Tuhan itu. Kemudian Ia melanjutkan, “Mamamu tetap membuat kue itu walaupun hari telah larut, karena ia tahu bahwa besok kamu akan bepergian bersama teman- temanmu ke tempat yang cukup jauh. Mamamu membuatnya diam- diam supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan dia buat untukmu. Namun, apa yang kamu perbuat dan katakana kepadanya di meja makan tadi? Sadarkah kamu bahwa sikapmu sangat tidak pantas? Bahkan kamu langsung berbalik tanpa melihat matanya yang basah saat itu”.
Seketika itu juga, aku terbangun dari tidur dengan penyesalan yang dalam menyelimuti hatiku dan air mataku mulai menetes. “Ampuni aku, Tuhan karena tidak menjaga perasaan mama. Ampuni aku karena aku telah sangat kasar terhadap mama. Ajari aku Tuhan, untuk lebih menghormati dan mengasihi mama. Sekarang aku akan meminta maaf kepada mama”, kataku kepada Tuhan sambil menangis sesengukan.
Pelan- pelan aku pergi ke kamar mama dan berlutut di samping tempat tidurnya. “Ma… mama…”, ujarku perlahan sambil membangunkan tidurnya. Mama mulai membuka mata dan tersenyum lembut kepadaku. “Ada apa, sayang?”, tanya mama kebingungan melihat mataku yang masih basah. “Ma, apakah malam ini mama bersusah payah membuat kue- kue untuk bekalku besok?”, tanyaku. Ia membelai rambutku dengan penuh kasih sayang dan berkata, “ Mama cuma khawatir kalau kamu dan teman- temanmu akan kelaparan karena perjalanan yang jauh itu, sayang”. Hatiku serasa teriris mendengarkan jawabannya yang penuh ketulusan itu sehingga air mataku mengalir lagi. Lalu segera saja aku berkata, “Mama, maafkan aku. Aku sangat menyesal karena sudah berbicara kasar pada mama. Seharusnya aku berbicara lebih halus dan menghormati mama”. Sambil menghapus air mataku, mama menjawab, “Tidak apa- apa, anakku. Mama sayang kepadamu”. Akupun membalas perkataannya, “Terima kasih, mama. Aku berjanji aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku sayang mama”. Kemudian mama pun memelukku.
Melalui ilustrasi di atas, apakah kita menyadari betapa seringnya kita berlaku baik hanya untuk dilihat oleh orang lain, demi profesionalitas, atau demi nama baik. Ketika kita berada di lingkungan yang kita kenal, contohnya rumah, kita melepas “topeng” kita dan kembali mengenakan wajah asli kita. Apakah itu identitas kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan? II Korintus 3:2-3 menulis bahwa kita adalah surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca oleh semua orang. Artinya hidup kita seharusnya mencerminkan karakter Kristus di manapun kita berada, kepada siapapun, dan dalam kondisi apapun. Bagaimana kita dapat mencerminkan karakter Kristus jika sikap baik kita hanyalah sebuah topeng? Marilah kita belajar untuk menjadikan kebenaran dan karakter Kristus sebagai wajah asli kita sehingga kita benar- benar dapat menajdi surat Kristus yang terbuka, yang dapat dibaca semua orang sehingga memuliakan Dia. Memang diperlukan proses terus menerus untuk mencapainya, namun dibutuhkan keputusan hari ini untuk memulainya (yfx)
Diterbitkan dalam buletin Wafema edisi 58 oleh Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala Surabaya, Juni 2010
No comments:
Post a Comment