August 13, 2011

KEDEWASAAN EMOSIONAL


Diawali dengan penolakan di masa kecil yang menimbulkan kepahitan dalam hidupku, inilah aku. Bertahun- tahun hidup dalam bayang- bayang kegelapan, dikuasai oleh roh kebencian, dihantui oleh roh kematian. Aku nggak bertumbuh seperti orang- orang lainnya. Aku tumbuh seperti monster menakutkan, yang melawan setiap orang yang membenci aku.
Sampai suatu saat, Yesus menemui aku dalam sebuah KKR di tahun 2005, aku baru tahu bahwa hidupku berharga. Bahwa hidup adalah sebuah anugerah, bukan sebuah bencana yang nggak tahu kapan akan berakhir. Aku bersyukur buat setiap pemulihan dan kelepasan yang Dia berikan bagiku. Sejak itu, aku menjadi seorang ciptaan baru.
Namun, perjalanan dalam mengikut Yesus tidaklah berhenti pada saat mulutku dan hatiku mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Justru disitulah hidup kekristenanku dimulai. Setiap karakterku yang buruk, mulai dibentuknya melalui serangkaian proses yang menyakitkan. Setiap masa laluku yang buruk, pengalaman- pengalaman pahit yang aku alami, mulai diganti dengan pengalaman indah bersama-Nya. Bagaikan penjunan yang membentuk perabot dari tanah liat, demikianlah tangan Sang Penjunan Agung membentukku.
Hari demi hari, hidupku semakin berarti. Tahun demi tahun, semakin banyak Lucy lama yang mati dan muncul Lucy yang baru. Namun, ada bagian dari diriku yang belum sepenuhnya pulih. Hatiku telah, sedang, dan akan terus diperbaharui oleh kasih-Nya. Masa lalu yang buruk bertahun- tahun, nggak mudah untuk diluapakan begitu saja dalam sekejap. Goresan- goresan luka itu masih membekas sedemikian dalam di hatiku. Penolakan demi penolakan yang aku alami, membuatku cacat. Aku nggak bisa menerima kasih, aku nggak bisa mengasihi.
Di tahun 2007, muncul seorang penyelamat, yang perlahan- lahan memulihkan bagian hatiku ini. Ia memenuhi kebutuhanku akan kasih. Dia menerimaku apa adanya aku. Dia menopangku ketika aku hampir terjatuh. Sampai akhirnya, tanpa sadar aku menjadikannya berhala dalam hidupku. Aku bergantung kepadanya lebih daripada aku bergantung pada Bapaku. Kejatuhanku dimulai ketika aku memandangnya lebih sering daripada aku memandang Juruselamat sejatiku.
Baru- baru ini aku menyadari bahwa karena kebutuhanku akan kasih tidak pernah dipenuhi sejak kecil, aku “mencekik” orang yang memedulikanku dan memberiku kasih. Tanpa sadar, aku menuntut orang- orang tersebut memperhatikanku terus- menerus, mengasihiku lagi dan lagi. Kehausanku akan kasih membuatku ingin memenuhinya melalui tuntutan- tuntutan yang takkan pernah berakhir. Ketika aku diabaikan, aku cenderung terluka, merasa tak berharga. Sampai aku menyadari bahwa kasih Tuhan itu cukup bagiku. Bahwa aku tak membutuhkan kasih manusia untuk memulihkanku dan memenuhi kehausanku akan kasih.
Aku belajar tentang kedewasaan emosional, dimana manusia harus belajar mendengarkan Roh Kudus daripada jiwanya. Seringkali jiwa kita merasa kita nggak diperhatikan, nggak dipahami, nggak dipedulikan. Namun, itu nggak selalu benar. Jika kita ingin menjadi orang yang dewasa, disiplin, dan dikendalikan oleh Roh, kita harus bertekad bulat untuk hidup di dalam Roh dan bukannya di dalam daging. Dibutuhkan kemauan untuk memilih bertindak menurut jalan Tuhan bukannya jalan kita sendiri (Managing Your Emotions, Joyce Meyer, hlm 123)
Bener banget, seringkali aku dikendalikan oleh jiwa atau perasaanku sendiri, dibandingkan dengan dikendalikan oleh Roh Kudus. Seringkali iblis memakai perasaan- perasaan kita untuk menjatuhkan kita. Kunci untuk menang dalam hal ini adalah mengerti benar di tangan siapa hidup kita dan belajar mendengarkan perkataan Roh Kudus dibandingkan perkataan jiwa kita. Kemenangan demi kemenangan dapat kita raih asalkan kita mendisiplinkan diri kita untuk mendengar apa yang Bapa katakan kepada kita.
Aug 10th 2011
1:05 pm

2 comments:

Unknown said...

Terima kasih, artikel ini memberkati saya karena saya juga pernah mengalami hal serupa :)

Rachel Lucy said...

Formal bgt bahasamu ce :p Be blessed!